Kamis, 21 April 2011

Harimau dan Prajurit

Alkisah, di sebuah kerajaan, sang raja mempunyai kegemaran yang tidak lazim, yakni mengukur kekuatan prajuritnya dengan cara mengadu mereka di arena aduan dengan binatang buas yang kelaparan. Banyak tentara yang mati sia-sia karena kesenangan yang mengerikan dari raja mereka. Tetapi, tidak ada seorang pun yang berani menentangnya. Karena, menentang perintah raja berarti mati! Maka setiap kali hari aduan tiba, pasti akan ada korban meninggal di sana.






Suatu ketika, hari aduan kembali tiba. Telah disiapkan seorang prajurit dan seekor harimau yang sedang kelaparan. Dari kejauhan, terdengar suara raungan marah dan kelaparan si harimau sehingga membuat siapa pun yang mendengar menjadi ciut nyalinya, apalagi si prajurit yang akan diadu. Sang prajurit pun hanya bisa berusaha mempersiapkan dirinya sebaik mungkin agar ia tak sekadar jadi mangsa empuk si harimau lapar.



Setelah sang raja duduk di tempatnya, si prajurit pun melangkah memasuki arena aduan dengan kepasrahan sembari berdoa, siapa tahu keberuntungan memihaknya hingga tak perlu meregang nyawa. Tak berapa lama, pintu kandang harimau pun dibuka. Segera si harimau mengaum sambil melangkahkan kakinya masuk ke arena dengan sikap waspada.



Beberapa saat, aroma ketegangan pun menghiasi suasana. Si prajurit segera menyiapkan diri untuk mempertahankan diri dari serangan harimau. Namun, sebuah keanehan terjadi. Harimau yang terlihat ganas bukannya segera menyerang dan siap memakan mangsanya, tetapi dia malah berputar mengendus-endus mengitari si prajurit tanpa menunjukkan sikap bermusuhan sama sekali.



Anehnya lagi, harimau justru berusaha mendekat ke prajurit yang tadi sudah siap melawan harimau. Prajurit makin terheran dengan tindakan harimau yang lantas menjulurkan lidahnya dan menjilat kaki si prajurit tanpa bermaksud menyakiti sedikit pun. Arena aduan pun menjadi heboh.



Raja segera memerintahkan membawa si prajurit ke hadapannya. "Hai prajurit! Apa yang telah kamu lakukan kepada harimau kelaparan itu sehingga dia tidak melahapmu, malah seakan dia tunduk dan menghormatimu? Ilmu apa gerangan yang kamu pakai? Segera beritahu rajamu ini," perintah sang raja.


"Ampun baginda. Hamba juga tidak mengerti apa yang terjadi. Hamba hanya pasrah sembari bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang terjadi. Tetapi, setelah melihat harimau yang tiba-tiba mendekati tanpa terlihat ingin menyerang, hamba juga segera menghentikan niat hamba mempertahankan diri.


Saat itu, kemudian hamba teringat sebuah peristiwa. Dahulu sekali, hamba pernah menyelamatkan dan mengobati seekor harimau kecil yang sedang diburu dan terluka. Dan sangat mungkin, harimau kecil itu adalah harimau yang sama yang ada di arena tadi. Kebaikan masa lalu yang telah hamba perbuat dan tidak pernah hamba ingat, ternyata telah menyelamatkan hidup hamba hari ini."


Pembaca yang luar biasa,



Kisah di atas adalah gambaran nyata dari pepatah "kita menuai apa yang kita tanam." Dan, meski cerita tadi sulit dipercaya, tetapi peristiwa semacam itu bisa terjadi di kehidupan nyata. Semua hal tersebut berhubungan dengan hukum universal tentang sebab akibat. Walaupun kita telah lupa pernah berbuat baik kepada orang lain, tetapi hukum Tuhan tidak akan lupa. Kita pasti akan menerima kebaikan-kebaikan yang sepadan, bahkan melebihi apa yang pernah kita lakukan.



Begitu juga sebaliknya. Kita boleh saja lupa pernah berbuat jahat pada orang lain. Namun, bila saatnya telah tiba, kita pasti akan menerima ganjaran yang setimpal dengan perbuatan kita. Hal tersebut sejalan dengan keyakinan dan ajaran yang harus kita praktikkan, yaitu menjauhkan diri dari berbuat kejahatan yang merugikan orang lain dan selalu berbuat baik dan membantu sesama makhluk.



Untuk itu, mari terus menanamkan benih kebaikan di setiap kesempatan yang ada, baik pada lingkungan terdekat kita maupun pada sesama. Niscaya, kita akan mampu menjalani hidup dengan penuh kedamaian, kebahagiaan, dan keharmonisan.

Aku Mau Berubah

Dikisahkan, di sebuah seminar motivasi, setelah mendengar banyak kiat-kiat dan pelajaran di sana, saatnya para peserta pulang dengan membawa kesan dan semangat yang membara untuk dipraktikkan di kehidupan mereka lebih lanjut.


Di antara mereka, beberapa orang yang merasa sangat terbantu setelah mengikuti seminar tersebut, memberitahu teman dan saudara-saudaranya bahwa seminar yang diikutinya sangat bagus dan luar biasa. Kemudian, mereka mulai melakukan anjuran yang diajarkan serta mengalami perubahan cara pandang & kebiasaan. Di kesehariaannya, mereka berusaha terus menyemangati diri sendiri, aktif mengikuti kegiatan yang positif, mengarahkan seluruh perhatiannya pada usaha yang dijalankan, dan hasilnya....perubahan yang luar biasa di kehidupannya! Mereka mengalami kemajuan yang berarti dan mensyukuri hal itu!




Ada kelompok yang lain. Setelah mengikuti seminar, mereka juga tampak bersemangat, bersiap-siap untuk mengadakan perubahan, membuat rencana sedetail mungkin. Sayangnya, setelah beberapa saat, rencana yang dibuat tetaplah rencana. Ada mental block karena kebiasaan yang dijalani selama ini, yakni malas, suka menunda, tidak bisa menerima penolakan, cepat putus asa saat mengalami benturan, serta cara pandang yang negatif terhadap sekelilingnya. Akhirnya mereka kembali ke pola lama dan mulai menyalahkan keadaan di sekelilingnya yang dituduh tidak mendukung.



Akhirnya, saat ditanya, Anda pernah mengikuti seminar motivasi? "Oh ya. Saya pernah mengikutinya, seminar yang bagus, pesertanya banyak dan pembicaranya hebat! Tapi, apa yang diajarkan tidak mudah untuk dijalankan. Karena sukses kan milik orang-orang tertentu dan sayangnya saya bukanlah orang itu."



Ada kelompok yang lain lagi. Setelah mengikuti seminar, mereka pun mulai mencoba membuat perubahan. Sayangnya, upayanya tidak terlalu kuat. Maka, saat orang-orang di sekelilingnya tidak menyukai perubahan yang dicobanya, dia pun merasa dijauhi dan tidak diterima di lingkungannya. Akhirnya, sudah bisa ditebak kan?



Netter yang Luar Biasa!



Seminar sehebat apapun, teknik secanggih apapun, rumus teori seampuh apapun, selamanya tidak akan mampu mengubah manusia jika manusia itu sendiri tidak mau mengubah dirinya sendiri!


Bagi saya, kehidupan adalah ruang kuliah atau tempat belajar tanpa batas. Seorang "pembelajar sejati" bisa menjadi guru bagi dirinya sendiri. Sementara seorang "pembelajar tulen" akan cepat sekali menyerap apa yang terjadi di sekelilingnya dan dengan cerdas mampu mencerna sebagai bahan belajar untuk kemajuan karier dan hidupnya.


Jadi akhirnya semua kembali pada diri sendiri;bagaimana kita mengelola pikiran dan sikap mental dalam menghadapi perubahan, sekaligus secara tegas mau berubah hingga mampu mengaktualisasikan diri sampai ke puncak kesuksesan!






Rabu, 20 April 2011

Spirit Bruce Lee for Success

Bruce Lee adalah sosok manusia luar biasa. Di mana dia telah membuktikan melalui cara berpikir, sikap mental, karakter, dan semangat juang habis-habisan mampu mengubah dirinya dari anak manusia yang biasa-biasa menjadi legenda yang tidak tergantikan hingga saat ini walaupun telah meninggal 37 tahun lalu. 

 
Dalam banyak hal Bruce Lee adalah pemberani sejati, pendobrak, idealis, seniman, otodidak, inovator, seseorang yang selalu ingin menyajikan karyanya yang otentik.Di dunia perfilman, setiap filmnya selalu menawarkan sesuatu yang baru, sesuatu yang khas, sesuatu yang beda, yang mampu memberikan kesan yang sangat menggigit. Dengan inovasi, keberanian, dan kejeniusannya pantas bila Bruce Lee tidak tergantikan sampai saat ini. Walaupun bintang-bintang kungfu baru bermunculan seperti Jackie Chan, Jet Li, dan Donni Yen yang mempunyai kualitas hebat, namun legendanya tetaplah Bruce Lee.

Saya yang sudah menonton puluhan kali setiap film Bruce Lee mulai dari The Big Boss, Fist of Fury,Way of the Dragon, Enter the Dragon, hingga Game of Death, membaca segala literatur mengenai Bruce Lee dan menelaah kisahnya dengan saksama, telah menemukan bahwa dalam filmnya terkandung spirit kehidupan yang tidak hanya bermanfaat untuk ilmu atau seni beladiri tetapi menjadi dasar kehidupan sehari-hari yang penuh dengan pedoman kebijaksanaan (wisdom) dan motivasi diri untuk meraih sukses. Karena itu, mengenang Bruce Lee tak hanya mengenang film-filmnya, tetapi juga mengingat, memahami, dan menyerap filosofi hidupnya yang kaya.

Bruce Lee boleh meninggal, tapi seperti juga para filsuf lain yang sudah lama meninggal, ajaran dan filosofinya masih hidup sampai kini.Filosofi sukses Bruce Lee bisa diterapkan dalam berbagai kehidupan terutama dalam bidang-bidang kompetitif seperti pengusaha, salesman, marketer, atlet, dan sebagainya.

Selasa, 19 April 2011

Mengembangkan Kasih Sayang

"Kebencian" dan "kasih sayang" bukan milik satu golongan, melainkan sifat universal yang dimiliki setiap manusia.

Jika "kebencian" yang kita pupuk, maka Penderitaan yang akan kita dapatkan.
Jika "kasih sayang" yang kita kembangkan, maka pasti Kebahagiaan & Kedamaian yang akan kita nikmati.
 

Saya setuju sekali dengan apa yang dikatakan oleh Mother Teresa:

"If we have no peace, it is because we have forgotten that we belong to each other."
(Jika kita tidak memiliki kedamaian, itu karena kita lupa bahwa kita saling memiliki satu sama lain).
 
Selamat hari kasih sayang!

Lompatan si Belalang

Seperti kita ketahui, belalang adalah binatang kecil berkaki panjang yang sangat hebat dalam urusan soal melompat. Konon ia bisa melompat hingga 100 kali lebih dari panjang badannya.

Demi menguji kehebatan dan pola lompat belalang, sebuah perguruan tinggi mengadakan penelitian dengan menangkap seekor belalang muda yang sehat dan memasukkan ke dalam sebuah kotak berudara, yang di atasnya diberi penutup kaca untuk mengamati ulah si belalang. 


Hari pertama, si belalang melakukan lompatan seperti yang biasa dia lakukan di alam terbuka dan...huup, segera kepalanya terantuk kaca penutup. Pada hari yang sama, kegiatan serupa dilakukannya beberapa kali, dan sebagai akibatnya, si belalang merasakan kesakitan pada tubuhnya yang terbentur berkali-kali. Rupanya, pengalaman itu mengajarkan kepada si belalang untuk mengubah pola lompatan, yang tadinya dengan sekuat kemampuannya, sekarang menyesuaikan diri dengan ketinggian penghalang. Selang beberapa hari, tidak terdengar lagi suara benturan badan belalang ke kaca, dari pengamatan si peneliti, si belalang masih melakukan lompatan, tetapi hanya setinggi di bawah kaca penutup dan tidak mengenainya kaca sama sekali.

Setelah si belalang tidak membentur kaca penutup lagi, sang penetili kemudian menurunkan ketinggian penutup kaca. Terjadi pola yang sama. Pada lompatan-lompatan awal, terdengar benturan badan belalang ke penutup kaca berkali-kali. Dan kembali si belalang mengubah pola ketinggian lompatannya untuk menghindari benturan dan kesakitannya. Hingga suatu ketika, setelah beberapa waktu, tidak lagi terdengar benturan badan belalang ke kaca penutup.

Setelah sekian lama, dengan ketinggian kaca penutup yang diturunkan secara berkala, akhirnya ketinggian kaca penutup ditempatkan hingga setinggi tubuh si belalang. Si belalang tidak lagi bisa melompat, dia hanya bisa bergeser dan berputar sekitar tempatnya bernaung. Selama ini, makanan selalu diberikan dengan posisi yang tercukupi. Akibatnya, belalang sibuk makan dan tidak pernah melompat lagi.

Hingga suatu hari. Si peneliti melepas kembali belalang ke ruang dan alam bebas, ternyata si belalang hanya mampu berjalan ke sana kemari. Ia tetap berusaha mencari makan, tetapi tidak lagi dengan melompat sama sekali.

Netter yang luarbiasa,

Hidup manusia sebenarnya laksana belalang dalam kisah tersebut. Sebab kita sering kali menghadapi halangan dan tantangan yang kadang membuat kita merasa tidak bisa melompat tinggi. Selain itu kenyamanan yang kita terima setiap hari, malah sering "menjebak" kita dalam zona nyaman yang sulit kita tinggalkan.

Padahal sejatinya, jika menilik masa-masa kecil dahulu, saat kita mulai belajar berjalan, kita semua tidak pernah mengenal rasa takut. Ketika jatuh, meski menangis, tapi segera bangkit dan belajar lagi hingga kita mampu berlari. Sayang, seiring dengan tumbuh kembangnya manusia, kadang ada banyak pengaruh lingkungan yang membuat kita takut, jengah, atau cemas saat menghadapi tantangan. Begitu juga saat "jatuh", kita pun merasa sangat sulit bangkit dan berjalan lagi. Mental block, ketakutan di dalam pikiran sendiri, bahwa "aku tidak bisa", "aku tidak mampu", dan seterusnyalah yangsering menjadikan kita sungguh-sungguh menjadi tidak mampu dan akhirnya menerimanya sebagai "nasib yang sudah ditentukan dari sononya".

Begitu juga saat kita sudah merasa nyaman dengan posisi atau kedudukan kita. Jika kita hanya puas dengan "menikmati" masa itu, tanpa mau belajar dan berusaha mengembangkan diri, maka jangan salahkan jika keberhasilan kita berbatas sampai di situ saja.

Tentu, kita tidak ingin menjadi belalang yang tidak bisa lagi melompat tinggi. Sebab, kita sebagai manusia sebenarnya diciptakan dengan berbagai kelebihan dibanding makhluk lainnya. Keistimewaan kita itulah yang perlu kita pelihara, gali, dan kembangkan. Caranya? Berani terus mencoba mendobrak segala perintang yang menghalang. Jangan terjebak dalam zona nyaman yang melenakan.

Mari, terus gali potensi. Kembangkan semangat juang untuk menang. Maka, kita akan terus bisa melompat tinggi mengapai segala cita-cita.

Indahnya Bunga Aggrek

Alkisah, di sebuah padepokan yang asri, tampak sang Guru sedang bersantai memandangi pohon-pohon bunga anggrek yang tertata artistik, terawat, dan sedang mekar dengan indahnya.

Pada suatu hari ketika hendak berkelana, dia berpesan kepada muridnya, "Anakku, gurumu akan pergi mengunjungi kakek guru dan saudara-saudara seperguruan lainnya. Tetaplah rajin belajar dan berlatih. Dan jangan lupa untuk hati-hati merawat tanaman bunga anggrek kesayangan gurumu ini."

Murid yang menerima pesan itu, dengan teliti memelihara pohon-pohon bunga anggrek tersebut. Namun, pada suatu hari, ketika sedang merapikan dan menyiram bunga-bunga anggrek, tanpa sengaja dia menyenggol rak-rak pohon tersebut. Prang! Bunyi keras mengiringi berjatuhannya pot -pot bunga anggrek yang pecah berantakan dan tanaman anggrek pun berserakan di sekitarnya.

Murid itu dengan rasa panik dan ketakutan berusaha membenahi sebisanya. Tetapi apa daya, hanya sedikit yang terselamatkan. Dengan rasa was-was, dia pun menunggu gurunya pulang untuk meminta maaf dan siap menerima hukuman apapun yang akan diberikan nantinya.

Setelah sang Guru pulang dan mendengar kabar itu, ia lalu memanggil para muridnya. "Guru, ampun Guru! Saya mengaku salah telah mengecewakan dan merusak bunga anggrek kesayangan Guru. Saya siap menerima hukuman..." sela si murid dengan penuh sesal.
 
Sambil tersenyum bijak sang Guru berkata, "Muridku. Memang bunga anggrek adalah bunga kesukaan Gurumu ini, maka Guru merawatnya dengan baik sehingga berbunga dengan indah. Perlu kamu ketahui, Gurumu menanam bunga anggrek, alasan utamanya adalah untuk menikmati indahnya warna-warni bunga-bunga anggrek sekaligus untuk memperindah lingkungan di sekitar sini. Bukan demi untuk marah Guru menanam pohon anggrek ini.


Walaupun menyukai bunga anggrek tapi Guru tidak terikat akan bunga-bunga itu, karenanya Guru tidak perlu marah karena anggrek. Tetapi lain kali mengerjakan apapun harus lebih hati-hati. Bunga anggrek bisa ditanam lagi, tapi ketidakhati-hatian adalah sikap yang harus selalu diwaspadai karena bisa berakibat negatif dan berdampak buruk bagi siapa pun."

Netter yang Luar Biasa!

Perkataan sang Guru sungguh benar, "Bukan demi untuk marah menanam tanaman anggrek".
 
Kita pun bisa belajar dari sini. Seandainya amarah sedang menguasai kita, cobalah berhenti sejenak dan berpikir, "Bukan demi marah menjadi sahabat," "Bukan demi marah menjadi suami istri," dan "Bukan demi marah melahirkan dan mendidik anak."

Dengan demikian, sikap toleransilah yang akan muncul. Kemarahan akan mencair dan damai pun akan menyertai hati kita. Ketika kita hendak bertengkar dengan sahabat, orang rumah, atau keluarga, hendaklah perlu diingat, perjumpaan yang telah terjadi, bukan demi untuk rasa marah, tapi sepatutnya untuk disyukuri.

Mari kita semua belajar untuk berlapang dada sehingga kehidupan akan damai penuh sejahtera!